Pages

Minggu, 15 Mei 2011

PERBANDINGAN SISTEM BIAYA ABC DAN SISTEM BIAYA TRADISIONAL


1.       Perbandingan  Sistem Biaya Activity-Based  Costing (ABC)  Dengan Sistem Biaya Tradisional  Suatu  temuan yang konsisten dari buku akuntansi biaya tradisional adalah ketidak tepatan dalam menggunakan informasi biaya untuk menjalankan suatu pabrik manufakturing. Hal ini berbeda dengan sistem biaya ABC yang memberikan informasi biaya yang lebih akurat. Sistem biaya ABC menelusuri biaya produksi  tidak langsung  ke unit, batch, lintasan produk, dan seluruh  fasilitas berdasarkan aktifitas tiap level. Metode penentuan  biaya ini menghasilkan biaya akhir produk yang lebih akurat dan lebih realistis.
Beberapa perbandingan antara sistem  biaya tradisional  dan sistem biaya Activity- Based Costing (ABC) yang dikemukakan oleh Amin Widjaya dalam bukunya “Activity-Based Costing untuk manufakturing dan pemasaran ", adalah sebagai berikut: :
a.       Sistem biaya ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya driver) untuk menentukan  seberapa besar konsumsi overhead dari setiap produk. Sedangkan sistem biaya tradisional mengalokasikan biaya overhead secara arbitrer  berdasarkan satu atau  dua basis alokasi yang non reprersentatif.
b.      Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti laba. Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.
c.       Sistem biaya ABC memerlukan masukan dari seluruh departemen persyaratan ini mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu pandangan fungsional silang mengenai organisasi.
d.      Sistem biaya ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk analisis varian dari pada sistem tradisional , karena kelompok biaya (cost pools) dan pemacu biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat menggunakan data biaya historis pada akhir periode untuk menghilang biaya aktual apabila kebutuhan muncul.
2.       Dasar-Dasar Activity-Based Costing (ABC) Dalam sistem biaya Activity Based Costing (ABC),  produk diartikan sebagai barang atau jasa yang berusaha dijual oleh perusahaan, termasuk pelayanan kesehatan, asuransi, pinjaman bank, pelayanan konsultasi, bensin, bioskop, roti, dan lain-lain. Semua produk tersebut diatas dihasilkan melalui aktivitas perusahaan dan akrivitas inilah yang mengkonsumsi sumber daya.
Biaya yang tidak dapat didistribusikan secara langsung pada produk akan dibebankan pada aktivitas yang menyebabkan biaya tersebut  timbul. Biaya untuk tiap aktivitas ini kemudian dibebankan pada produk yang bersangkutan.

2.1.  Biaya Produksi Tidak Langsung (Factory Overhead Cost)
Pengertian biaya produksi tidak langsung (factory  overhead cost) atau singkatnya biaya overhead produksi menurut  Matz dan Usry dalam buku "Cost Accounting, Planning and Control  (1980), sebagai berikut: biaya overhead produksi (factory overhead cost) dapat didefenisikan sebagai biaya dari bahan atau material tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, dan semua biaya produksi yang  tidak dapat dibebankan langsung  kepada produk.  Jadi dengan kata lain  biaya overhead produksi ini meliputi seluruh biaya produksi kecuali biaya material  langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
Biaya overhead produksi merupakan biaya yang tidak dapat diidentifikasikan secara langsung  kepada produk  yang menggunakannya atau  yang mengkonsumsinya. Hal  ini berbeda dengan biaya produksi langsung yang  dapat diidentifikasi secara langsung kepada produk yang mengkonsumsinya.
Biaya overhead yang timbul umumnya dikonsumsi oleh lebih dari satu departemen produksi.  Oleh karena itu diperlukan  suatu  prosedur distribusi biaya yang digunakan  untuk membebankan biaya overhead ini kepada tiap-tiap departemen ataupun  produk yang mengkonsumsinya.  Secara garis besar, biaya overhead produksi digolongkan sebagai berikut :
a.       Biaya Bahan Pembantu (Indirect Material) Biaya bahan pembantu merupakan biaya bahan yang diperlukan dalam proses pembuatan produksi, tetapi bukan biaya bahan baku (bahan langsung). Bahan pembantu ini akhirnya juga menjadi bagian produk, tetapi memiliki nilai yang kecil.
b.      Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung (Indirect Labor) Biaya tenaga kerja tidak langsung merupakan biaya tenaga kerja yang tidak dapat diidentifikasikan secara langsung kepada produk. Misalnya adalah biaya gaji supervisor, quality control, tenaga kerja administrasi dan pekerja yang bertugas dalam kerja pemeliharaan yang secara tidak langsung  berkaitan dengan produksi.
c.       Biaya Reparasi dan Pemeliharaan (Repair and Maintenance) Biaya reparasi dan pemeliharaan yaitu biaya yang dikeluarkan untuk aktivitas reparasi dan pemeliharaan mesin/peralatan, serta pemakaian suku cadang. Terkadang biaya suku cadang dipisahkan dari  biaya reparasi dan pemeliharaan.
d.      Biaya Penyusutan dan Depresiasi Misalnya adalah biaya penyusutan mesin, peralatan dan kendaraan.
e.      Biaya Utilitas Misalnya adalah biaya penggunaan air, gas dan listrik.  Sejalan dengan perkembangan teknologi pada proses produksi, biaya overhead produksi juga semakin meningkat. Saat  ini perusahaan-perusahaan cenderung  beralih dari padat karya menjadi padat modal. Tenaga kerja tidak lagi menjadi aktivitas penambah nilai yang  utama pada proses produksi,  karena penggunaan teknologi (mesin, komputer, dan lainnya) akan mengambil alih  posisi dari tenaga kerja manusia. Peralihan inilah  yang menyebabkan persentase biaya overhead produksi naik secara signifikan Penggunaan sistem biaya tradisional dalam membebankan biaya  overhead akan menjadi tidak relevan lagi, karena sistem ini menggunakan satu atau dua pemacu biaya yang berbasis unit (unit based cost drivers) sebagai dasar pembebanan biaya. Menggunakan satu atau dua pemacu biaya berbasis unit untuk membebankan semua biaya overhead produksi akan menciptakan biaya produksi yang terdistorsi.
Distorsi yang terjadi  adalah berupa subsidi silang (cross subsidy) antar produk, hal ini akan membuat situasi dimana satu produk akan mengalami kelebihan biaya (over costing dan produk yang lain akan mengalami kekurangan biaya (under costing).Tingkat distorsi yang terjadi tergantung pada proporsi biaya overhead produksi terhadap biaya produksi total. Semakin besar proporsinya semakin besar pula distorsi yang terjadi dan demikian juga sebaliknya. Hal  inilah yang melandasi dikembangkannya sistem biaya Activity-Based Costing (ABC). Adapun penentuan biaya overhead produksi dengan sistem tradisional dapat dilihat pada gambar II.2,  sedangkan penentuan biaya  overhead produksi dengan sistem biaya Activity-Based Costing (ABC) dapat dilihat pada gambar 11.3. Sistem biaya tradisional mengutamakan satu atau dua  pemacu biaya yang berbasis unit sebagai pembeban  biaya sehingga menciptakan biaya produk yang terdistorsi. Distorsi yang terjadi berupa subsidi silang (cross subsidy) antar produk, satu produk mengalami kelebihan biaya (overcosting) dan produk lainnya mengalami kekurangan biaya (undercosting). Tingkat  distorsi yang terjadi tergantung pada proporsi biaya overhead terhadap biaya produksi total. Semakin besar proporsinya, semakin besar distorsi yang terjadi demikian juga sebaliknya.  Hal  inilah  yang melandasi dikembangkannya sistem biaya Activity- Balanced Accounting (ABC).
Aktivitas dan Klasifikasinya Disini dilakukan pembedaan defenisi antara aktivitas pada perusahaan besar dengan aktivitas pada perusahaan menengah dan kecil. Untuk perusahaan besar, aktivitas didefenisikan sebagai proses-proses atau prosedur-prosedur yang menyebabkan kerja. Sebagai contoh, dalam departemen account payable aktivitasnya dapat  diperinci antara lain pengisian laporan penerimaan, order pembelian  dan invoice, membandingkan laporan penerimaan, order pembelian dan lainnya.
Sedangkan untuk perusahaan menengah dan kecil  aktivitas tersebut didefenisikan oleh T. Hicks dalam bukunya Activity-Based Costing for Small and Mid-Sized Businesses: An Implementation Guide (1992), sebagai sekelompok kegiatan yang memiliki hubungan proses dan  prosedur dapat digabungkan kedalam kebutuhan kerja secara khusus  dalam organisasi. Berdasarkan  defenisi tersebut maka aktivitas departemen account payable adalah account  payable dan aktivitas departemen purchasing adalah purchasing. Dalam sistem biaya Activity-Based, Costing  (ABC) aktivitas yang dimaksud adalah yang berhubungan dengan kegiatan merancang dan memproduksi suatu produk yang disebut juga dengan product driven actuvity. Product driven activity ini dapat dikelompokkan atas empat kategori, yaitu :
a.       Aktivitas-aktivitas Berlevel Unit (Unit-Lavel activities) Aktivitas berlevel unit (unit-level activities) adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali  satu unit produk diproduksi, besar kecilnya  aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi. Biaya yang timbul karena aktivitas berlevel unit ini dinamakan biaya aktivitas berlevel unit (unit-level activities cost), contoh biaya overhead untuk aktivitas ini adalah biaya listrik dan biaya operasi mesin. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung juga termasuk kedalam biaya aktivitas berlevel unit,  namun tidak termasuk  kedalam biaya overhead.
b.      Aktivitas-aktivitas Berlevel Batch (Batch-Lavel activities) Aktivitas-aktivitas berlevel batch (batch-level activities) adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali suatu batch produk diproduksi, besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah batch produk yang  diproduksi. Contoh aktivitas yang termasuk  kedalam kelompok ini adalah  aktivitas setup, aktivitas  penjadwalan produksi, aktivitas pengelolaan  bahan  (gerak bahan  dan order  pembelian), aktivitas inspeksi. Biaya yang timbul akibat dari aktivitas ini adalah biaya aktivitas berlevel batch (batch-level activities), biaya ini bervariasi batch produk yang diproduksi, namun bersifat tetap jika dihubungkan dengan jumlah unit produk yang diproduksi dalam setiap batch.
c.       Aktivitas-aktivitas Berlevel Produk (Product-Lavel activities) Aktivitas-aktivitas berlevel produk (product-level activities) disebut juga sebagai aktivitas penopang produk (product-sustaining activities) yaitu aktivitas yang dikerjakan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan.
Aktivitas ini mengkonsurnsi masukan  untuk mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi dan dijual. Aktivitas ini dapat dilacak pada produk secara individual, namun sumber-sumber yang dikonsumsi oleh aktivitas tersebut tidak dipengaruhi oleh jumlah produk atau batch produk yang diproduksi. Contoh aktivitas yang termasuk kedalam kelompok ini adalah aktivitas penelitian  dan  pengembangan produk, perekayasaaan proses, spesifikasi  produk, perubahan perekayasaan, dan peningkatan  produk. Biaya yang  timbul akibat dari aktivitas ini  disebut dengan biaya  aktivitas berlevel produk (product-level activities cost).

Aktivitas-aktivitas Berlevel Fasilitas (Facility-Lavel activities) Aktivitas berlevel fasilitas (facility-level activities) disebut juga sebagai aktivitas penopang fasilitas (facility-sustaining activities) adalah meliputi aktivitas untuk menopang proses manufaktur secara umum yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas atau kapasitas  pabrik  untuk memproduksi produk, namun banyak sedikitnya  aktivitas ini tidak berhubungan dengan  volume atau bauran produk yang diproduksi. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk  yang berbeda, atau  dengan kata lain aktivitas ini dilakukan untuk
mempertahankan eksistensi perusahaan.  Contoh aktivitas ini mencakup misalnya: manajemen pabrik, pemeliharaan bangunan, keamanan, pertamanan (landscaping), penerangan pabrik, kebersihan, pajak bumi dan bangunan(PBB), serta depresiasi pabrik. Aktivitas manajemen pabrik bersifat administratif,
misalnya aktivitas pengelolaan pabrik, karyawan, dan akuntansi untuk biaya. Biaya untuk aktivitas ini disebut dengan biaya aktivitas berlevel fasilitas (facility-level activities cost). Tingkatan aktivitas product driven  activity tersebut diatas dapat dilihat pada gambar 11.4.


Tingkatan Aktivitas Pada Sistem Biaya Activity-Based Costing (ABC) Meskipun  sistem biaya ABC ini kelihatan lebih kompleks dari sistem biaya tradisional, tetapi sistem ini mampu menghasilkan perhitungan biaya yang lebih akurat. Aktivitas ini juga dapat diklasifikasikan, yaitu sebagai berikut :
  1. Aktivitas Repetitif dan Non Repetitif
Aktifitas repetitif dilakukan  secara berulang atau kontiniu, sedangkan aktifitas yang non repetitif adalah aktivitas yang dilakukan hanya satu kali.
  1. Aktivitas Primer dan Sekunder
Aktifitas primer (production activity) merupakan aktivitas yang memiliki kontribusi langsung terhadap kegiatan-kegiatan departemen atau unit organisasi, sedangkan aktivitas sekunder (production support activity) mendukung aktivitas primer.
  1. Aktivitas yang Memiliki Nilai Tambah dan Tidak Memiliki Nilai Tambah
Aktifitas yang memiliki nilai tambah merupakan aktivitas (value added) yang secara langsung dapat memberi benefit pada perusahaan, sedangkan aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah (non value added) merupakan aktivitas yang tidak memberikan benefit kepada perusahaan.

Dalam sistem biaya Activity-Based Costing (ABC), terdapat beberapa teknik pengumpulan data aktivitas dimana tiap-tiap teknik memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Teknik-teknik tersebut antara lain adalah :
1.  Analisi Data Historis
Analisis data historis ini menggunakan data-data yang sudah ada pada perusahaan. Data-data ini merupakan data aktivitas mingguan atau bulanan dan biasanya berisi aktivitas yang dilakukan tiap departemen.
2.  Analisi Proses Bisnis
Analisis Proses bisnis ini adalah merupakan yang melakukan pendekatan dengan proses bisnis dengan menelusuri aktivitas dari  input  sampai dengan output. Aktivitas ditentukan dengan observasi dari  aliran fisik  dan perubahan bentuk produk.  Kelebihan dari pendekatan ini adalah dimungkinkannya penggambaran hubungan  antara input atau output dari aktivitas dan identifikasi komunikasi
antar departemen.
Hubungan antara sistem biaya Activity – Based Costing (ABC) dengan analisis proses
bisnis dapat dilihat pada gambat II.5


 11.2.3. Tujuan Biaya (Cost Objective)
Konsep penting lainnya untuk mengerti tentang sistem Biaya Activity-Based Costing(ABC) adalah  tujuan biaya (cost objective). Tujuan biaya didefenisikan sebagai "item" akhir (final) dimana semua biaya terakumulasi. Tujuan biaya final ini berupa akumulasi biaya untuk mentransfer  barang atau jasa kepada konsumen diluar perusahaan.
Tujuan biaya final dapat berupa produk atau jasa pelayanan yang disediakan oleh sauatu perusahaan untuk konsumen. Pada sistem manufakturing, tujuan biaya dapat berupa produk jadi atau proses manufakturing.

11.2.4. Pemacu Biaya (Cost Driver)
Pemacu biaya didefenisikan sebagai faktor yang digunakan untuk mengukur bagaimana biaya terjadi atau dapat  juga dikatakan sebagai cara untuk membebankan biaya  pada aktivitas atau  produk. Secara praktis, pemacu biaya menunjukkan dimana biaya harus dibebankan dan seberapa besar biayanya. Pemacu biaya adalah  penyebab terjadi biaya, sedangkan aktivitas adalah merupakan dampak yang ditimbulkannya, Dalam sistem biaya activity-Based Costing (ABC) digunakan beberapa macam pemacu biaya sedangkan pada sistem biaya tradisional hanya menggunakan satu macam pemacu biaya tertentu yang digunakan sebagai basis, misalnya jam tenaga kerja/jam kerja orang, rupiah tenaga kerja, atau
jam mesin.
Paling tidak ada dua faktor utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan pemacu biaya (cost driver) ini yaitu: biaya pengukuran dan tingkat korelasi antara cost driver dengan konsumsi overhead  sesungguhnya. Hal ini dapat dijelaskan, sebagai berikut:

a.  Biaya Pengukuran (Cost of Measurement) Dalam sistem biaya Activity-ased Costing  (ABC), sejumlah besar pemacu biaya dapat dipilih dan  digunakan. Jika memungkinkan, adalah sangat penting untuk memilih pemacu biaya yang menggunakan informasi yang  telah tersedia. Informasi yang tidak  tersedia pada sistem yang ada  sebelumnya berarti harus dihasilkan, dan akibatnya akan meningkatkan biaya sistem informasi perusahaan.
Kelompok biaya (cost pool) yang homogen dapat menawarkan sejumlah pemacu biaya. Untuk keadaan ini, pemacu biaya yang dapat  digunakan  pada sistem informasi  yang ada sebelumnya hendaknya dipilih. Pemilihan ini akan meminimumkan biaya pengukuran. 

b.  Derajat Korelasi (Degree of  Corelation) Antara  Pemacu Biaya don Konsumsi Overhead Aktualnya 
Struktur informasi yang tersedia  dapat dimanfaatkan dengan cara lain untuk meminimalkan biaya pengumpulan informasi konsumsi pemacu biaya. Terdapat kemungkinan utnuk  menggantikan suatu pemacu biaya yang secara langsung mengukur  konsumsi suatu aktivitas dengan pemacu biaya yang  tidak secara langsung , mengukur konsumsi tersebut. Misalnya, jam inspeksi dapat digantikan oleh jumlah inspeksi aktual tiap produk, angka ini dapat lebih diketahui. Penggantian ini berlaku apabila jam yang digunakan dalam setiap  inspeksi per produk adalah cukup stabil.
Beberapa pemacu biaya yang sering digunakan dalam sistem biaya Activity Based Costing (ABC) adalah :
1.  Kelompok Tenaga Kerja (Labour Group) Kelompok ini dipakai  pada aktivitas  yang elemen biaya utamanya adalah tenaga kerja atau pada aktivitas yang biaya aktivitasnya berubah secara paralel dengan  perubahan tenaga kerja.  Pemacu biayanya yaitu : jam kerja, upah tenaga kerja. Jam kerja juga dapat memacu konsumsi utilitas.
2.  Kelompok Waktu Operasi (Operating Time Group) Dipakai sebagai pemacu biaya pada suatu grup operasi pengerjaan yang merupakan operasi dari suatu peralatan tunggal atau beberapa peralatan. Pemacu biaya yang digunakan adalah jam mesin (machine hour).
3.  Kelompok Pemilikan (Occupancy Group) Merupakan pemacu biaya yang tepat untuk mendistribusikan biaya tetap (fixed cost) berdasarkan lokasi  aktivitas atau asset. Sebagai contoh, depresiasi bangunan, pajak bangunan yang didistribusikan berdasarkan luas  areal peraktivitas.Depresiasi peralatan atau biaya sewa gedung didistribusikan pada aktivitas yang terjadi  dilokasi asset  tersebut. Kelompok pemacu ini jarang digunakan sebagai dasar untuk penentuan besar biaya yang terjadi, tetapi lebih sering dipakai untuk menentukan dimana biaya harus didistribusikan. Pemacu biaya yang biasa dipakai adalah seperti ukuran pabrik, lokasi peralatan dan nilai peralatan.
4.  Kelompok Permintaan (Demand Group)
Dipakai sebagai pemacu biaya bila distribusi biaya pada aktivitas lain atau pada tujuan biaya didasarkan pada permintaan akan aktivitas tersebut.  Contohnya adalah biaya perawatan, dapat dilihat bahwa biaya  perawatan akan didistribusikan pada aktivitas atau tujuan biaya yang memerlukan  pelayanan perawatan saja. Distribusi biaya  yang akurat akan didapatkan berdasarkan estimasi atau permintaan aktual perawatan. Sama seperti kelompok pemilikan (occupancy group), kelompok  permintaan ini juga jarang dipakai untuk menentukan besar biaya yang terjadi,tetapi lebih sering dipakai untuk menentukan biaya yang harus didistribusikan. Pemacu biaya yang dipakai untuk kelompok ini adalah biaya perawatan dan pemeliharaan mesin (repair and maintenance mechine).
5.  Kelompok Thoroughput (Thoroughput Group)
Dipakai sebagai pemacu biaya bila biaya utama dari suatu aktivitas ditentukan oleh jumlah unit thoroughputnya. Sebagai contoh bahan kimia tertentu yang dihasilkan oleh suatu  perusahaan kimia dipacking dalam satuan tankerloads, drum 55  galon, dan  karton satu  galon. Proses packing ini dapat  dipisahkan sebagai tiga aktivitas dengan  unit thoroughput (tankerloads, drum 55 galon, dan kaftan satu galon) dan masing-masing menjadi pemacu  biaya yang dipakai.
6.  Surrogate Cost Driver
Surrogate cost driver merupakan data atau ukuran  yang telah tersedia di lapangan dan praktis dipakai untuk mendistribusikan suatu biaya ke aktivitas lain atau kedepartemen lain, apabila pemacu biaya secara teoritis  sulit diukur datanya. Ada beberapa aktivitas yang pemacu biayanya sulit dan tidak praktis
untuk  diukur atau ditentukan  dengan tepat. Misalnya, production control, accounting, general management dan marketing. Contoh pemacu biaya untuk kelompok ini adalah  biaya material  (material cost), dan biaya konversi (convertion cost), kedua pemacu biaya ini sering dipakai oleh perusahaan kecil
dan menengah.

11.2.5. Kelompok Biaya (Cost Pool)
Defenisi kelompok biaya (cost pool) adalah sekelompok biaya yang memiliki karekteristik yang sama. Karakteristik ini berkaitan dengan tolok ukur aktivitas yang sama, untuk maksud pembebanan biaya ke produk. Dalam penelitian ini, biaya-biaya utama tidak dibagi menjadi kelompok-kelompok biaya, agar pembebanan biayanya bisa dilakukan dengan lebih akurat.

11.3. Prosedur Pembebanan Biaya Sistem Activity-Based Costing (ABC)
Sistem biaya tradisional mendistribusikan biaya overhead produksi ke produk dengan menggunakan dasar aplikasi yang disebut dengan unit based measures (penggunaan berdasarkan jumlah/volume unit), yaitu jam tenaga  kerja langsung, biaya tenaga kerja  langsung, jam mesin,  biaya bahwA  baku langsung dibebankan secara rata pada seluruh produk yang dihasilkan. Sistem biaya ini mengasumsikan
bahwa sumber daya yang dikonsumsi proporsional dengan acuan tersebut.
Sistem biaya tradisional ini menggunakan pembeban biaya dua tahap, tahap pertama adalah biaya  overhead didistribusikan ke pusat-pusat biaya (cost centre). Pada tahap kedua, biaya yang terakumulasi dalam tiap pusat biaya dialokasikan ke produk dengan menggunakan pemacu unit based tersebut. Sistem biaya Activity-Based Costing (ABC) merupakan suatu sistem biaya yang  pertama kali menelusuri biaya keaktivitas  Dan kemudian keproduk  yang dihasilkan. Dalam sistem biaya ABC ini juga dikenal adanya prosedur pembebanan biaya aktivitas kepada produk berdasarkan aktivitas-aktivitas yang dikonsumsi oleh produk yang dihasilkan tersebut. Tahap yang dimiliki oleh sistem ABC tersebut dalam analisisnya dapat dibagi dalAM dua tahapan, yaitu sebagai berikut :
1. Prosedur Tahap I
Pada tahap pertama ini dilakukan pembebanan biaya pemakaian  sumber daya kepada aktivitas-aktivitas yang menggunakannya.  Dalam kalkulasi biaya berdasarkan sistem Activity-Based Costing (ABC) tahap pertama, biaya overhead dibagi kedalam kelompok biaya  yang  homogen. Suatu kelompok biaya yang
homogen merupakan  suatu kumpulan  dari biaya overhead, yaitu  variasi biaya dapat dijelaskan oleh suatu pemacu biaya (cost driver). Aktivitas overhead yang homogen apabila mereka mempunyai rasio  konsumsi yang sama untuk semua produk.
2. Prosedur Tahap II
Pada tahap kedua ini, biaya setiap kelompok biaya (cost pool) ditelusuri ke produk. Hal ini dilakukan dengan menggunakan tarif kelompok yang dihitung pada tahap pertama dan dikalikan dengan jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap produk.Tolok ukur ini merupakan kuantitas pemacu biaya yang digunakan  oleh setiap produk.  Dengan  demikian overhead yang  dibebankan setiap kelompok biaya ke produk dihitung sebagai berikut : Overhead yang dibebankan = Tarif kelompok x Jumlah konsumsi pemacu biaya

.4. Profitabilitas
Tujuan utama dari manajemen adalah mengerahkan  dan menggunakan sumber- sumber yang ada dalam perusahaan yaitu  seperti bahan baku, tenaga kerja, dan kapasitas pabrik, sedemikian rupa sehingga modal  dalam perusahaannya dapat dipergunakan secara menguntungkan. Ukuran profitabilitas dari suatu produk dapat ditentukan  dari ratio keuntungan  kotor. Dalam penelitian ini dipakai profitabilitas ratio keuntungan kotor (gross profit ratio) karena pada penelitian yang diukur adalah biaya produksi .
Ratio keuntungan kotor menyatakan  persentase ratio keuntungan kotor terhadap hasil penjualan produk. Keuntungan kotor ini adalah merupakan hasil dari penjualan (sales) dikurangi harga pokok produksi (cost  of goods sold manufacturing). Informasi keuntungan kotor dapat berupa laba bruto atau rugi bruto tiap produk yang diperlukan,  untuk mengetahui kontribusi tiap order dalam menutupi pengeluaran yang  non-produksi,  demikian juga sebaliknya. Perhitungan ratio keuntungan kotor (gross profit ratio) adalah sebagai berikut :

    Penjualan – Harga Pokok produksi
Ratio keuntungan kotor =  ----------------------------------------- X 100%
         Penjualan

1 komentar:

Andy A.Fairussalam mengatakan...

Assalamu'alaikum, blogwalking n salam kenal ^_^ Aku follow blog kamu, follow balik ya ke AndyOnline.Net
jangan lupa buat kamu yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)

Poskan Komentar